Monday, July 15, 2019

KISAH BUKIT SHAFA & MARWA



Allah mewahyukan kepada Ibrahin AS, “Ambillah istrimu, Hajar, dan anakmu Ismail, kemudian pergilah ke tempat yang akan aAku tunjukkan kepadamu.”



Ibrahim AS melaksanakan perintah Allah ta’ala, bersegera kepada ampunan Allah, membawa Hajar dan Ismail yang masih menyusu, kemudian pergi ke bumi yanng dikehendaki Allah Ta’ala. 

Perintah Ilahi yang tinggi memerintahkan Ibrahim AS berhenti di lembah tandus tanpa tanaman didalamnya. Untuk Hajar dan Ismail, Ibrahim meninggalkan kantong berisi kurma dan tempat air. Setelah itu Ibrahim AS pulang mentaati perintah Allah Ta’ala sambil berdoa kepada-Nya.
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di eka rumah engkau (Baitullah) yang dirahmati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rekillah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim:37)

Adapun Hajar, ia melihat si sekitarnya, ternyata yang ada hanyalah lautan pasir. Tidak ada manusia dan jin. Di lembah tersebut terdengar secara berulang-ulang kalimat Hajar setelah ia ditinggal pergi Ibrahim, “Allah tidak akan menelentarkan kami. Allah tidak akan meneletarkan kami.”

Keheningan menyelimuti Makkah dan sekitarnya. Segala sesuatu di samping Hajar juga terdiam kecuali gerakan si kecil Ismail yang menggerakan perasaan yang ada di hati ibunya dan menggugah nostalgia tentang masa lalu dan kehidupan di rumah Nabi Allah, Ibrahim  di Baitul Maqdis.

Hajar tersadar oleh gerakan Ismail kemudian ia menyusuinya. Setelah itu, Hajar segera makan kurma dan minuma air. Selang beberapa lama, persediaan kurma dan air habis. Hajar dan Ismail kehausan  oleh karena itu Ismail berguling-guling, berteriak, dan menangis. Hajar bangkit dari tempat duduknya, kemudian berlari ke Shafa. Ia naik ke sana dengan harapan mendapatkan orang yang menyelamatkan dirinya dari kehausan. Tapi, ia tidak melihat siap-siapa. Ia pun turun dan berlri ke Marwa. Ia naik, tapi lagi-lagi tidak melihatsiapa-siapa. Ia berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwa hingga tujuh kali dengan harapan mendapatkan orang yang dapat meyelematkan sirinya dan anaknya yang kehausan. Tapi lagi-lagi ia tidak melihat siapa-siapa.

Ketika kekalutan semakin meningat dan nyawa seperti sudah sampai kerongkongan, datanglah jalan keluar dari Allah Ta’ala. Hajar mendengar suara dari dekat anaknya, Ismail, ternyata air keluar dari arah kedua kakinya. Hajar segera pergi menuju air itu dengan sukacita, memenuhi tempat minumnya, dan membuat seperti kolam ditempat keluarnya air, agar air tidak habis di antara pasir yang panas membara.

Hajar merasakan kebahagiaan, mulutnya tidak henti-henti memuji Allah Ta’ala dan membaca tasbih kepada-Nya. Di dekat air yang suci tersebut terdapat salah satu malaikat yang mulia. Malaikat berkata dengan jelas dan memberi kabar gembira kepada Hajar, “Engkau jangan khawatir terlantar, karena di sinilah Rumah Allah, rumah suci. Rumah tersebut dibangun si kecil ini bersama ayahnya. Sesungguhnya Allah tidak akan menelantarkan wali-wali-Nya.”

Pada suatu hari, sekelompok orang dari kabilah Jurhun melewati daerah dekat Hajar, -ketika itu, Jurhum tinggal di lembah dekat Makkah- dan melihat burung-burung terbang melayang disekitar air dan juga Hajar yang tidak jauh dri air tersebut. Mereka berkata dengan heran –seperti tidak mempercayai apa yang mereka lihat-, “Sungguh burung-burung ini terbang melayang-layang di atas air, padahal sepengetahuan kami, di lembah ini tidak ada air.”

Ketika itulah, mereka mengirim salah seorang dari mereka untuk melihat keadaan dan datang kembali ke tempat mereka dengan membawa informasi yang riil. Orang yang mereka utus tersebut melihat seorang wanita di dekat air tersebut bersama anaknya. Ia berjalan kepada wanita itu (Hajar) dan berkata kepadanya, “Apakah engkau mengizinkan kami bersamamu dan bertempat tinggal di tempatmu?”

Hajar menjawab dengan senang hati, “Ya, silahkan, tapi dengan satu syarat.”

Orang tersebut berkata, “Syarat apakah itu?”

Hajar menjawab, “Kalian tidak mempunyai hak atas air ini, karena air ini pemberian Allah kepadaku dan anakku ini.”

Orang-orang Jurhum laki-laki, wanita dan anak-anak, semua turun ke lembah tersebut. Mereka datang membawa hewan ternak mereka. Setelah itu, orang-orang Al-Amaliq juga datang bersama membawa laki-laki, wanita dan anak-anak. Setiap orang dari mereka mengambil tempat di sekitar air zamzam.

Keesokkan harinya, matahari belum terbit, ternyata kehidupan telah uncul kembali ditempat gersang tersebut.

No comments:

Post a Comment